Pada kesempatan kali ini, izinkanlah saya menuliskan tentang ulasan buku yang saya baca. Kali ini, saya membahas tentang salah satu karya Pramoedya Ananta Toer. Sebelumnya, saya hanya tahu nama beliau ini lewat quote poster pada event menulis yang diadakan oleh kampus saya ataupun kampus lain, yakni "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian."
Jujur saja nih, saya tidak mengenal siapa sosok beliau itu. Jadi saya putuskan untuk mencari tahu lewat laman wikipedia. Nah, karena belum puas hanya lihat biografinya saja, saya coba cari karya beliau di internet. Siapa tahu ada yang sudah mengunggah versi e-book nya. Dan alhamdulillah saya menemukan beberapa karya Bapak Pram ini di sebuah laman tempat download buku gratis. Maafkan saya yang suka gratis-an ini :']
Saya mengunduh 2 karya Pram karena tertarik dengan judulnya, yaitu Perburuan dan Gadis Pantai. Dari 2 novel yang telah saya unduh itu, saya baru selesai baca yang Perburuan, jadi yang akan saya ulas tentu saja tentang Perburuan kan :D
Meskipun sempat bingung karena belum ada aplikasi yang bisa buka berkasnya karena ekstensi nya dJVu (saya bacanya file de javu, ga tahu gimana bacanya yang bener hehehe :V) akhirnya bisa juga dibuka karena sudah unduh plug ins nya, dan ternyata bisa dibuka lewat Windows Photo Viewer kok. Jadi ini itu file gambar tapi ada sub-gambar, ya begitulah pokoknya.
Kembali ke buku. Novel Perburuan ini mengisahkan tentang Raden Hardo, seorang prajurit pada zaman penjajahan Jepang di Indonesia yang dianggap mengkhianati Nippon sewaktu itu sehingga diburu untuk dihukum oleh pihak Nippon, dan bertekad pulang kalau Nippon kalah. Hardo sudah tidak memiliki apapun, bahkan tampangnya sudah tidak bisa dibilang pantas untuk seorang prajurit, Hardo hanya bercawat dan seperti seorang kere. Cerita ini diawali dengan kunjungan Hardo ke sebuah rumah yang sedang mengadakan hajat sunatan anak lelaki pemilik rumah itu. Kehadiran Hardo tidak disadari oleh pemilik rumah itu karena tersamarkan dengan para pengemis yang juga ada disitu meminta sumbangan. Tapi anak laki-laki yang disunat, Ramli menyadari kalau itu adalah Den Hardo, orang yang sudah ia kenal. Merasa kehadirannya diketahui, Hardo beranjak pergi dari rumah itu dan perburuan pun dimulai.
Novel ini menggunakan alur lambat jadi tiap bab itu nampilkan setting di tempat tertentu tapi terkesan lambat dan ngalir gitu tapi ini yang bikin seru menurutku, memiliki 4 bab dengan latar yang berbeda. Bab 1 dengan setting rumah pemilik hajat sunatan sekaligus rumah tunangan Den Hardo yang bernama Ningsih, lalu jalanan desa tempat Den Hardo dibujuk pulang oleh Lurah Kaliwangan (Bapaknya Ningsih) yang pada akhirnya lurah itu menjadi pengkhianat Hardo sendiri. Bab 2 setting sebuah gubuk di ladang jagung, di sini Den Hardo bertemu dengan seorang penjudi yang ternyata bapaknya sendiri, mantan wedana Kalijati. Bab 3 setting lokasi di kolong jembatan, dimana Den Hardo bertemu dengan teman prajuritnya Dipo, dan Kartiman, serta berkumpulnya para pemburu Hardo. Pada bagian bab 3 itu diketahui bahwa Hardo seorang prajurit yang menginginkan kemerdekaan memiliki sifat sentimentil pada seorang perempuan, tunangannya serta beberapa masalah tokoh Dipo dan Hardo terhadap tokoh lain bernama Karmin; Ini diketahui dari dialog para tokoh. Selanjutnya, pada bab 4, setting bertempa pada sebuah rumah, tepatnya rumah Ningsih. Pada bab ini, muncullah konflik dan resolusi yang bikin berdebar. Bagaimana kelanjutan kisah perburuan Den Hardo ini? Apakah Indonesia akhirnya merdeka? Saya sarankan untuk membacanya sendiri.!
e-book yang saya punya adalah hasil scan buku terbitan tahun 2002 oleh syauqi_arr@yahoo.co.id , saya tidak akan mengomentari soal hasil scan buku ini, tetapi dari isi tulisannya. Ketikannya sudah baik, tapi tidak ada beda antara kalimat deskripsi dengan dialog. Di sini, dialog tidak di tulis dalam kurungan tanda petik " ", jadi agak bingung membacanya. Sudut pandang yang dipakai adalah sudut pandang orang ketiga, pendiskripsian dan kata-katanya banyak yang baru bagi saya, antara lain :
te·ri·tis n tanah atau lantai di sekeliling rumah yg masih beratap di atasnya
ba·yo·net /bayonét/ n senjata tajam spt pisau, runcing sekali, biasanya dipasang pd ujung senapan; sangkur;
Juga masih digunakan istilah-istilah jepang seperti Shodanco, Keibodan, tapi di halaman akhir ada glosarium mengenai kata-kata tersebut, ada juga istilah bahasa Jerman dan Belanda. Latar kejadian keseluruhan novel ini ada di Kota Blora. Selain itu, kisah dalam novel ini tidak mudah ditebak, sehingga membuat pembaca penasaran sehingga ingin menuntaskan novel ini lekas-lekas.
Banyak pesan moral yang dapat dipetik dari novel ini, selain itu ada beberapa kutipan pemikiran tokoh yang bagus, ala quote-quote gitu, salah satunya ini nih.
"Siapa yang bisa menyalahkan? Orang memang sudah biasa dengan keadannya sendiri. Dan aku pun tak bisa menyalahkan. Mungkin juga dia benar dan kalau tak benar untuk umum, pastilah benar untuk dirinya sendiri. "
Akhir kata, saya memberi buku ini 5/5, Selamat berburu!